Skip links

Influencer di Media Sosial, Efektifkah?

Influencer marketing akan menjadi lebih populer di tahun 2018 ini – dan bukan tanpa alasan. Strategi ini sukses besar di tahun 2017, dan akan semakin banyak digunakan di tahun 2018 ini. Khususnya, dengan perkembangan internet di Indonesia yang sangat pesat, sehingga membuat peluang besar bagi terlaksananya bisnis online di Indonesia.

Banyak online shop yang memanfaatkan media sosial sebagai marketplace untuk melakukan transaksi jual-belinya. Instagram, Facebook, Twitter dan beberapa sosial media populer lainnya adalah media yang paling digemari oleh banyak orang saat ini. Menurut data GetCraft, pengguna media sosial di Indonesia melonjak 34% menjadi 103 juta pengguna. Dibandingkan dengan televisi, yang pada tahun 2016 masih lebih populer dibandingkan media sosial, kini orang Indonesia lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial. Rata-rata orang Indonesia sekarang menghabiskan 3 jam 16 menit di media sosial & hanya 2 jam 23 menit menonton televisi. Jadi tidak heran, para pelaku bisnis menggunakan media sosial untuk memasarkan produk bisnisnya.

Bisnis online memang sedang marak di era digital saat ini, sehingga perusahaan harus semakin kreatif dan inovatif dalam memasarkan produk yang ditawarkan kepada masyarakat luas, agar dapat bersaing. Hasil survei Socialbuzz 2018 yang berjudul The State of Influencer Marketing 2018 memaparkan beberapa temuan yang menarik seputar influencer marketing. Hasil survei itu menyatakan bahwa tipe influencer yang paling sering digunakan ternyata bukan artis tetapi selebriti internet (59%). Mereka adalah yang terkenal di dunia maya namun kurang terkenal di dunia nyata. Pada urutan kedua adalah artis/selebriti (22,9%) yaitu mereka yang terkenal di dunia nyata maupun di dunia maya. Pada urutan ketiga adalah micro influencer (14,5%), yaitu mereka yang mempunyai pengikut antara 5.000-20.000 akun. Terakhir adalah mereka menggunakan semua tipe (3,6%). Adapun alasan mereka pertimbangan mereka dalam memillih infuencer adalah pertimbangan engagement rate (69,9), gaya hidup influencer (53%), jumlah followers (50,6%), serta kualitas konten (47%).

Pada dasarnya, yang membuat influencer marketing memiliki potensi untuk menjadi strategi marketing yang efektif adalah adanya elemen relatability antara influencer dan target pemasaran, yaitu para pengikut influencer tersebut. Dengan adanya relatability dan hubungan yang dekat, para pengikut yang juga sekaligus target pembeli menjadi lebih termotivasi untuk membeli produk yang di-endorse oleh influencer.

Hasil survei Socialbuzz 2018 menyatakan bahwa 83% pemasar menganggap influencer marketing efektif dalam mencapai tujuan pemasaran mereka. Hal ini berdasar pada pasar yang akan didominasi oleh generasi Y atau sekarang lebih dikenal dengan nama generasi milenial. Karakteristik unik dari generasi milenial yaitu mereka tidak bisa dilepaskan dari teknologi terutama dengan internet. Influencer marketing menjadi penting dalam promosi karena bersifat persuasif, mendorong calon konsumen untuk melakukan pembelian.

Namun, tantangannya adalah memilih influencer yang tepat sesuai dengan produk yang dimiliki, sehingga produk yang akan mereka endorse tidak bentrok dengan personal branding yang sudah mereka bangun & mencapai target pembeli yang sudah ditentukan oleh pembuat produk. Untuk itu, para pelaku usaha harus bijak memanfaatkan loyalitas konsumen dan berbagai strategi marketing, dengan terus memperhatikan kualitas produk dan memberikan pelayanan sebaik mungkin.

Hubungi marketing@didand.co.id atau kunjungi www.didand.co.id untuk dapatkan konsultasi langsung dengan tim kami dan diskusikan strategi content marketing yang tepat untuk brand Anda.

 

Leave a comment